•  
  • Archives for ARM19 - Sunaryo Ibnu Yoyok (1)

Sejarah Software Server Pulsa ARM19

History

Telekomunikasi Seluler pertama kali masuk Indonesia pada tahun 1984 dan menjadi salah satu negara paling awal dalam mengadopsi teknologi seluler versi Komersial. Saat itu digunakan teknologi seluler NMT (Nordic Mobile Telephone) dari Eropa, disusul oleh AMPS (Advance Mobile Phone Sistem), keduanya dengan sistem analog. Teknologi seluler bersistem analog tersebut, seringkali disebut sebagai teknologi seluler generasi pertama (1G). Pada tahun 1995 diluncurkan teknologi generasi pertama CDMA (Code Division Multiple Access) dengan sebutan ETDMA (Extended Time Division Multiple Access) melalui operator Ratelindo dimana hanya tersedia di beberapa wilayah Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Teknologi AMPS ditangani oleh empat operator: PT. Elektrindo Nusantara, PT. Centralindo Panca Sakti, dan PT Telekomindo Prima Bakti, serta PT. Telkom sendiri. Regulasi saat itu mengharuskan para penyelenggara layanan telephony dasar bermitra dengan PT. Telkom.

Pada saat itu, peredaran telepon seluler di Indonesia masih belum bisa dimasukkan ke dalam saku karena berukuran besar dan berat, rata-rata 430 gram atau hampir setengah kilogram. Harganya pun masih mahal, sekitar Rp10 jutaan.

PT. Satelit Palapa Indonesia (Satelindo) muncul sebagai operator GSM pertama di Indonesia, melalui Keputusan Menteri Pariwisata No. PM108/2/MPPT-93, dengan awal pemilik saham adalah PT. Telkom, PT. Indosat, dan PT. Bimagraha Telekomindo, dengan wilayah cakupan layanan meliputi Jakarta dan sekitarnya.

Setelah muncul Teknologi GMH 2000/E-TDMA diperkenalkan Bakrie Telecom melalui Ratelindo. Ratelindo memberikan layanan berupa Fixed-Cellular Network Operator, yaitu telepon rumah nirkabel, lalu pada 26 Mei 1995 didirikan sebuah perusahaan telekomunikasi bernama Telkomsel, sebagai operator GSM nasional kedua di Indonesia, dengan kepemilikan bersama Satelindo.

Pada tahun 1996 ahkir, PT. Excelcomindo Pratama (Excelcom) muncul sebagai operator seluler berbasis GSM nasional ketiga ikut ambil bagian dalam bisnis kue selluler. Pada tahun tersebut, Satelindo meluncurkan satelit Palapa CII, dan langsung beroperasi pada tahun itu juga.

Pada tahun 1997, Telkomsel memperkenalkan produk prabayar pertama dengan nama simPATI, sebagai alternatif Kartu Halo. Lalu Excelcom meluncurkan Pro-XL sebagai jawaban atas tantangan dari para kompetitornya, dengan layanan unggulan roaming pada tahun 1998. Di tahun tersebut, Satelindo tak mau ketinggalan dengan meluncurkan produk Mentari, dengan keunggulan perhitungan tarif per detik. Inilah Cikal Bakal terjadinya pengisian melalui voucher fisik/gesek dengan target pelanggan prabayar. Produk Mentari yang diluncurkan Satelindo pun mampu dengan cepat meraih 10.000 pelanggan. Padahal, harga kartu perdana saat itu termasuk tinggi, mencapai di atas Rp100 ribu dan terus naik pada tahun berikutnya. Hingga akhir 1999, jumlah pelanggan seluler di Indonesia telah mencapai 2,5 juta pelanggan, sebagian besar merupakan pelanggan layanan prabayar atau menggunakan voucher gesek.

Pada tahun 2001, Indosat mendirikan PT. Indosat Multi Media Mobile (IM3), kemudian menjadi pelopor layanan GPRS (General Packet Radio Service) dan MMS (Multimedia Messaging Service) di Indonesia. Pada 8 Oktober 2002, Telkomsel menjadi operator kedua yang menyajikan layanan tersebut, dan dikenal sebagai layanan 2G atau (Second Generation)

Pada Desember 2002, TelkomFlexi hadir sebagai operator CDMA pertama di Indonesia, di bawah pengawasan PT. Telekomunikasi Indonesia, menggunakan frekuensi 1.900 MHz dengan lisensi FWA (Fixed Wireless Access). Artinya, sistem penomoran untuk tiap pelanggan menggunakan kode area menurut kota asalnya, seperti dipergunakan oleh telepon berbasis sambungan tetap dengan kabel milik Telkom, sekali lagi kita tahu walapun Bakrie Telecom yang pertama menggunakan jaringan CDMA tapi operator CDMA untuk layanan seluler adalah TelkomFlexi Sebagai icon Perkembangan Telekomunikasi Seluler Di Indonesia.

Pada November 2003, Indosat mengakuisisi Satelindo, IM3, dan Bimagraha. Pada akhirnya, ketiganya dilebur ke dalam PT. Indosat Tbk. Maka sejak saat itu, ketiganya hanya menjadi anak perusahaan Indosat.

Pada Pada November 2003 PT. Bakrie Telecom meluncurkan produk esia sebagai operator CDMA kedua berbasis FWA, yang kemudian diikuti dengan kehadiran Fren sebagai merek dagang PT. Mobile-8 Telecom pada Desember 2003, namun dengan lisensi CDMA berjelajah nasional, seperti umumnya operator seluler berbasis GSM. PT. Indosat menyusul kemudian dengan StarOne pada Mei 2004, juga dengan lisensi CDMA FWA.

Para operator masih melihat peluang bisnis yang besar dari industri telekomunikasi seluler itu. Maka, untuk meraih banyak pelanggan baru, sekaligus mempertahankan pelanggan lama, para operator memberlakukan perang tarif yang membuat tarif layanan seluler di Indonesia semakin murah. Untuk mendistribusikan produk produk selular, perdana dan isi ulangnya, setiap dealer mengangkat sub-sub dealer sebagai channel distribusi resmi, mereka di persenjatai dengan spanduk, voucher fisik, kartu yang bisa dipergunakan untuk isi ulang, edc dan lain lain.

Dengan bergesernya waktu kartu perdana semakin murah dan Voucer isi ulang gesek pecahan nominal semakin beragam yang mengakibatkan pengguna seluler semakin bertambah dan harga telepon seluler pun semakin murah, bulan Juni 2004, Telkomsel mengeluarkan yang namanya M-KIOS, outlet pun semakin mudah untuk bisa mengisi ulang para pelanggan dengan system USSD. Itulah awal system pendistribusian pulsa secara elektrik.

Setelah adanya pendistribusian secara elektrik, otlet pulsa semakin bermunculan dan menjamur. Transaksi pengisian pulsa di lakukan manual dengan HP, semakin hari semakin banyak pelangan dan banyak transaksi maka tranaksi melalui sms pun sangat merepotkan dan tiap malam harus melakukan pembukuan transaksi, maka dibutuhkan suatu system yang bisa menggantikan transaksi dengan HP serta membuat pencatatan pembukuan secara otomatis dengan sebuah komputer.

Melihat peluang bisnis pendistribusian isi ulang pulsa yang sangat besar maka tidak disia-siakan oleh perusahaan software dari kota Malang yang bernama Light Intermultimedia, perusahaan ini didirikan oleh seorang dosen dari Universitas ternama di kota Malang, beliau adalah Bapak Dody WY Handaru Sakti. Team Light Intermultimedia pertama kali mengembangkan sebuah sistem program pengisian pulsa menggunakan komputer yang di lengkapi dengan penghitungan pembukuan dan pencatatan rugi laba, maka lahirlah cikal bakal software pulsa pertama di Indonesia yang diberi nama Evoucer19. Outlet pengguna software Evoucer19 semakin hari semakin bertambah banyak. Otlet pulsa yang menggunakan software Evoucer19 pun pelanggannya semakin bertambah dan tentunya menambah peningkatan jumlah transaksi yang membutuhkan kejelian pencatatan transaksi. Banyak pelanggan yang berlangganan isi pulsa, pelanggan otlet pulsa pun mulai menjual pulsa untuk saudara maupun rekan kerja yang orderkan di otlet pulsa yang memakai software Evoucer19, otlet pulsa merasa Evoucer19 kurang lengkap sistem pembukuan atau pencatatan transaksi untuk pelanggan, maka software Evoucer19 perlu di kembangkan untuk bisa mencatat transaksi yang dilakukan pelanggan otlet pulsa, maka dikembangkanlah eVo19, yaitu software pengisian pulsa yang sudah dilengkapi dengan management pelanggan atau reseler. Pemakai eVo19 sudah merasa puas dengan system dan kinerja software karena sudah mengurangi beban pekerjaan karena sudah tidak harus lagi mencatat transaksi reseller atau pelanggan yang menjual pulsa dari setok otlet. Tapi lama kelamaan reseller semakin banyak maka dibikinlah system pengisian pulsa secara otomatis melalui sms yang diberi nama Refill19. Sebelumnya sudah ada perusahaan yang mendristirbusikan pulsa melalui sms. Perusahaan itu kalau tidak salah adalah PT. Telemedia Persada atau yang lebih kita kenal dengan Nusapro. Dengan dukungan system yang canggih dan menyediakan fasilitas sms shortcode.

Refill19 pada saat itu merupakan software server pulsa yang sudah bisa transaksi otomatis melalui sms, pengguna software tinggal menjaga server pulsa dan memenuhi stok maupun saldo reseler. Semakin lama user pengguna software Refill19 semakin banyak, user ataupun pengguna Refill19 banyak membantu memberikan ide dan masukan buat kesempurnaan pengembangan maupun update fitur untuk kesempurnaan Refill19. Nama Refill19 pun dirubah menjadi ARM19 (Automatic Refilling Machine 19). ARM19 sudah dipergunakan Deler Operator pulsa dan pebisnis server pulsa di seluruh Indonesia, Malaisya bahkan India. Seiring berjalannya waktu juga bermunculan developer software pulsa dengan berbagai berbagai macam nama dan fitur, mulai dari harga ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah.

Why Us?

Semakin menjamurnya konter pulsa, maka semakin banyak pula pengusaha yang ingin berbisnis server pulsa elektrik all operator. Dan kesempatan itu di manfaatkan oleh developer software untuk membuat software server pulsa elektrik, mereka menjual dari termurah sampai termahal, tapi perusahaan kami sudah berpengalaman dibidangnya dan kami pastikan software kami layak untuk dipilih, team kami siafa dengan layanan dan support untuk membantu maintenance user kami serta cs kami yang selalu siap melayani anda walaupun diluar jam kerja sehingga penguna software kami merasa nyaman dan tenang dengan dukungan suport dari team IT kami.

Kami selalu mengikuti perkembangan, mengupdate / berinnovasi setiap waktu sehingga membuat penguna software kami selalu lancar dalam bertransaksi.

Kami juga terbuka menerima masukan dan saran demi kemajuan dan kenyamana produk kami untuk kedepannya agar lebih baik dan sempurna.

Lebih lengkap kesini aja

Pemesanan bisa hubungi ane : 08122694754/085729121879  id ym : alfurqoncell

page 1 of 1
Archives
Categories

Welcome , today is Saturday, September 22, 2018